Pasien Kanker Selama Pandemi: Cegah COVID-19, Rawat Kankernya oleh - sabunmandidetol.xyz

Halo sahabat selamat datang di website sabunmandidetol.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Pasien Kanker Selama Pandemi: Cegah COVID-19, Rawat Kankernya, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Dalam beberapa studi, pasien kanker berada dalam urutan atas orang dengan risiko tertinggi saat terinfeksi COVID-19. Akan tetapi hal ini tidak boleh menjadi hambatan bagi pasien kanker untuk menjalani pengobatan. 

Saat ini, rumah sakit berupaya melakukan pemeriksaan ketat untuk mencegah penularan COVID-19 pada pasien kanker agar mereka tetap bisa menjalani pengobatan secara rutin. Hal ini mengingat penundaan penanganan kanker bisa berisiko memperburuk kondisi pasien. 

Prosedur menjaga pasien kanker terhindar dari risiko COVID-19

menjaga pasien kanker agar tidak tertular covid-19

Setiap orang yang ingin memasuki gedung Rumah Sakit Kanker Dharmais harus mengisi formulir secara manual atau elektronik. Formulir tersebut berisi pertanyaan-pertanyaan seputar riwayat perjalanan dan penyakit.

Setelah itu, pengunjung harus melakukan pengecekan suhu dan wawancara sederhana berkaitan dengan gejala yang dirasa serta maksud dan tujuan kedatangan. Setelah melewati screening tersebut, pengunjung baru diizinkan masuk gedung rumah sakit. 

Pada pasien kanker, pemeriksaan terkait COVID-19 akan dilanjutkan dengan pemeriksaan swab tenggorokan (RT-PCR). Semua pasien harus terlebih dahulu menjalani pemeriksaan COVID-19, terutama pasien kanker yang akan melakukan tindakan medis berupa kemoterapi, radioterapi, atau operasi kanker.

"Jangan sampai pasien positif COVID-19 kita kemoterapi, nanti bisa jeblok. Kita (RS Kanker Dharmais) melakukan swab pada 50 sampai 100 pasien setiap harinya. Ini agar kita tahu bahwa pasien aman untuk kita lakukan pengobatan," kata spesialis kanker paru, dokter Jaka Pradipta, kepada Hello Sehat, Kamis (23/7), di RS Kanker Dharmais.

Screening ketat ini dilakukan karena pasien kanker berisiko tinggi tertular COVID-19 karena cenderung memiliki daya tahan tubuh yang rendah. Selain itu, beberapa studi mengatakan bahwa ketika pasien kanker terinfeksi COVID-19, gejala yang ditimbulkan akan lebih berat dan fatal dibandingkan dengan orang tanpa penyakit penyerta.

Risiko perburukan gejala akan meningkat jika pasien yang sedang menjalani rangkaian pengobatan kemoterapi atau radiasi ini terinfeksi COVID-19. 

"Jadi, pasien-pasien kanker di era pandemi ini harus benar-benar dilindungi," kata dokter Jaka. 

Dokter Jaka menekankan agar pasien kanker melakukan pencegahan COVID-19 jauh lebih ketat daripada orang-orang tanpa kanker. 

  1. Hindari keramaian.
  2. Rajin mencuci tangan.
  3. Wajib mengenakan masker. 
  4. Diutamakan tetap ke rumah sakit, jangan sampai ada penundaan penanganan.

Pasien kanker tetap fokus pada pengobatan kankernya selama pandemi

pasien kanker tertular covid-19 tetap melakukan pengobatan

Selama masa pandemi, banyak pasien kanker yang tidak melakukan kontrol ke rumah sakit sesuai dengan yang dijadwalkan dokter. Sebagian besar dikarenakan takut tertular COVID-19, apalagi dengan risiko kematian 15 kali lebih besar daripada orang lain yang terinfeksi COVID-19 tanpa kanker. 

Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) juga menjadi kendala bagi beberapa pasien untuk pergi ke rumah sakit, termasuk pasien yang tidak punya kendaraan dan pasien yang berada di luar kota.

"Memang banyak yang akhirnya tidak kontrol ke rumah sakit, lalu mereka baru datang lagi dengan kondisi yang stadiumnya sudah bertambah atau sudah berat," kata dokter Jaka. 

Bagi pasien kanker, kontrol ke rumah sakit adalah keharusan terutama saat dijadwalkan untuk melakukan kemoterapi, radioterapi, ataupun tindakan operasi.

Dokter Jaka berpesan kepada pasien kanker untuk tidak terlalu stres dengan data risiko pasien kanker terhadap infeksi COVID-19. Stres karena khawatir berlebihan justru bisa membuat daya tahan tubuh pasien menurun apalagi ditambah dengan tertundanya penanganan. 

"Jangan sampai dia aman dari COVID-19 tapi meninggal karena kanker," tutur dokter Jaka.

Data memang mengungkap banyak, tapi nyatanya tidak semua pasien kanker yang terinfeksi COVID-19 itu mengalami gejala yang buruk. Ada beberapa kasus pasien kanker yang terinfeksi COVID-19 hanya memperlihatkan gejala ringan seperti sakit tenggorokan dan flu biasa.

Untuk kasus di RS Kanker Dharmais, pasien tersebut akan di rawat di ruang isolasi RS Kanker Dharmais sehingga COVID-19 dan kankernya selalu dalam pemantauan dokter. 

Sebaliknya, ada beberapa kasus pasien COVID-19 usia muda tanpa penyakit penyerta yang mengalami perburukan gejala hingga harus dirawat di rumah sakit.

"Orang muda yang merasa sehat jangan terlena dan orang yang punya komorbid (penyakit penyerta) jangan terlalu panik. Soalnya kalau sudah panik, daya tahan tubuh menurun," ujar dokter Jaka. 

"Jadi bisa kok sembuh (yaitu dengan) mencegah penularan COVID-19 dan fokus juga sama kanker-nya, karena kankernya juga bisa membunuh. Ini dua hal yang harus sama-sama kita pertimbangkan," lanjutnya. 

Perawatan kanker dengan protokol pencegahan COVID-19 sudah lebih siap

pasien kanker terinfeksi covid-19

Masalah penanganan pada pasien kanker juga terjadi karena hal teknis di rumah sakit, terutama pada masa awal-awal COVID-19 masuk ke Indonesia. 

Pasien kanker yang menjadi kasus suspek COVID-19 harus menunggu selama 7-10 hari karena menunggu hasil tes swab COVID-19, bahkan bisa dua pekan. Selama menunggu hasil tes, petugas medis tidak bisa melakukan tindakan pada pasien kanker.

Bagi pasien kanker waktu satu pekan itu sangat krusial, beberapa pasien bisa meninggal sebelum hasil swab tersebut keluar. 

"Maret sampai April memang saat itu kita (petugas medis) ada keterbatasan APD, kita keterbatasan ilmu pengetahuan, test swab terbatas. Sehingga kita itu kayak menerobos hutan tapi nggak punya senter, kita cuma bisa meraba-raba saja," tutur dokter Jaka. 

"Sekarang ini kita memasuki era yg alhamdulillah sudah lebih siap.  Karena senjata kita (di wilayah Jakarta khususnya) juga sudah lumayan lengkap ya," lanjutnya.

Dokter Jaka menekankan agar pasien kanker tidak lagi merasa takut untuk kontrol ke rumah sakit. Nantinya, dokter yang akan menentukan jadwal kontrol bertemu secara langsung dan/atau yang bisa dilakukan secara online.

Itulah tadi informasi mengenai Pasien Kanker Selama Pandemi: Cegah COVID-19, Rawat Kankernya dan sekianlah artikel dari kami sabunmandidetol.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Post a comment

0 Comments